Dinyinyirin itu Biasa

"Kamu sih, Rus, kecepatan menikah. Padahal banyak sekali pekerjaan di sini." kata seseorang padaku. Beliau beranggapan seharusnya aku menunda menikah dan menikmati bekerja dahulu.

Jujur saja, seandainya aku bisa memutar waktu dan kembali ke masa lalu. Aku tak kan pernah menyesali jalan yang sudah kuambil, aku pasti akan tetap memilih menikah. Menurutku cepat atau lambatnya seseorang menikah itu adalah sesuatu yang relatif. Orang lain mungkin akan mengatakan aku kecepatan menikah, tetapi aku menganggap usia dua puluh empat tahun adalah usia yang pas untuk menikah. Aku bahkan mempunyai target menikah pada usia dua puluh tiga tahun, tetapi kupikir melepaskan status single di usia dua puluh empat tahun tidak buruk juga, kan?

"Sayangnya, sarjana cuma jadi guru TK"

Nah ini, komentar yang amat miris sekali. Aku ingat sekali dulu aku pernah dikatakan seperti ini oleh orang lain. Padahal dia saja yang tak mengerti bahwa menjadi guru TK pun sangat dibutuhkan skill. Menjadi guru TK pun tak mudah ya, Pak, Bu. Tentu saja menjadi guru TK juga harus sekolah tinggi. Bapak itu aja yang belum tau. Senyumin aja, deh. :)

"Kenapa kamu berhenti kerja? Sayang loh. Anakmu kan bisa dititip aja nanti"

Sederhana saja, Bu. Aku berhenti kerja karena ingin mengasuh anakku sendiri. Aku ingin terjun langsung untuk merawat dan mendidiknya menjadi seperti apa yang kumau. Bagiku anak adalah aset dunia dan akhirat, aku harus serius mendidiknya.

"Ih, kasiannya ya. Anaknya dititip sana-sini. Ibunya kerja terus"

 Aduh, serba salah ya. Itulah netizen pemirsa, tak ada yang benar dimata mereka. Padahal mereka tak tau, siapa tau keluarga itu sedang berusaha membayar hutang, makanya suami dan istri memilih untuk bekerja.

"Ih, si anu sudah punya anak loh. Kamu kapan?"

"Eh, kamu kok mau sih menikah dengan dia? Kenapa gak sama pacarmu yang dulu aja tuh?"

"Kenapa sih anakmu gak divaksin? Kasian, kan? Udah deh jangan terlalu fanatik jadi orang!"

"Kenapa sih kamu belum lulus? Si anu sudah wisuda tuh. Kamu malas ngurus skripsi, ya?"

" bla la la"

Itulah manusia. Tak kan pernah habis bila kita memikirkan apa yang orang lain pikirkan tentang kita. Ingat ya, yang menjalani hidup kita adalah kita sendiri, bukan orang lain. Biarlah mereka berkomentar sepuas mereka, kita tetap bergerak maju dan lakukan yang terbaik. Kita pasti memiliki alasan dalam menentukan pilihan di hidup ini, bukan? Maka tetaplah fokus, jangan biarkan mereka membuat kita goyah. Terkadang bersikap tak peduli itu juga perlu, loh. Selama yang kita lakukan tak melanggar syariat agama dan sama sekali tidak merugikan orang lain, maka tak ada alasan untuk berhenti.

Selalu ada yang tak menyukai kita, itu manusiawi. Karena, kita dilahirkan bukan untuk menyenangkan semua orang. Ingat ya, manusia terbaik di dunia aka Rasulullah SAW saja mempunyai haters, apa lagi kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku dan Baby blues