Postingan

Dua Permata Tumbang

Gambar
Sudah dua hari ini Abizar seperti tidak bersemangat. Tubuhnya makin kurus dan lemas.  Setiap makanan masuk dalam mulutnya,  muntah mengiringi.  Aku dan ayahnya sampai sangat kawatir. Aku bahkan tidak masuk sekolah hari ini karena ingin memeriksakannya ke dokter.   Pagi tadi sekitar jam 7 pagi,  kami ke rumah praktek dokter spesialis anak.  Rumahnya tidak jauh dari rumahku.   Kata beliau Abizar radang tenggorokan,  kemudian beliau meresepkan obat yang harus ditebus di apotek.  Karena pukul segitu apoteknya masih tutup,  alhasil ayahnya saat jam istrahat kantor rela pulang untuk mengambilkan obatnya.   Setelah obatnya ditebus,  ternyata obatnya sangat pahit sekali.  Dan Abizar pun tak mau meminumnya.  Ketika dipaksa, alhasil dia muntah cukup banyak. Kami heran sekali kenapa anak usia tiga tahun diresepkan obat yang sangat pahit. Setelah ku searching di google,  aku tau bahwa itu adalah an...

Aku dan Baby blues

Baby blues atau baby blues syndrome adalah kondisi psikis yang dialami oleh ibu pasca melahirkan, di mana si ibu akan merasa sedih, mudah tersinggung, gampang menangis, lelah,  kesal, tak percaya diri, sulit tidur dan lain-lain. Kondisi ini disebabkan karena perubahan hormon dalam tubuh setelah melahirkan dan banyaknya tanggung jawab yang harus dilakukan setelah menjadi ibu. Serta, bisa juga karena faktor orang-orang sekeliling yang bersikap tak mendukung atau kurang perhatian. Bila dibiarkan secara terus menerus, dan gangguan emosi ini tak kunjung jua hilang, maka kemungkinan si ibu telah mengalami Post Partum Depression (PPD). Berbeda dengan baby blues, penderita PPD mengalami gangguan emosi yang lebih lama dan dalam, yang akan berakibat buruk pada bayi dan ibu itu sendiri. Tentu saja kita sering mendengar kasus ibu yang tega menyiksa dan bahkan sampai membunuh anaknya, nah itu bisa disebabkan karena si ibu mengalami PPD. Hal ini harus ditangani serius oleh psikiater. Bagaiman...

Dinyinyirin itu Biasa

"Kamu sih, Rus, kecepatan menikah. Padahal banyak sekali pekerjaan di sini." kata seseorang padaku. Beliau beranggapan seharusnya aku menunda menikah dan menikmati bekerja dahulu. Jujur saja, seandainya aku bisa memutar waktu dan kembali ke masa lalu. Aku tak kan pernah menyesali jalan yang sudah kuambil, aku pasti akan tetap memilih menikah. Menurutku cepat atau lambatnya seseorang menikah itu adalah sesuatu yang relatif. Orang lain mungkin akan mengatakan aku kecepatan menikah, tetapi aku menganggap usia dua puluh empat tahun adalah usia yang pas untuk menikah. Aku bahkan mempunyai target menikah pada usia dua puluh tiga tahun, tetapi kupikir melepaskan status single di usia dua puluh empat tahun tidak buruk juga, kan? "Sayangnya, sarjana cuma jadi guru TK" Nah ini, komentar yang amat miris sekali. Aku ingat sekali dulu aku pernah dikatakan seperti ini oleh orang lain. Padahal dia saja yang tak mengerti bahwa menjadi guru TK pun sangat dibutuhkan skill. Menjadi...