Dinyinyirin itu Biasa
"Kamu sih, Rus, kecepatan menikah. Padahal banyak sekali pekerjaan di sini." kata seseorang padaku. Beliau beranggapan seharusnya aku menunda menikah dan menikmati bekerja dahulu. Jujur saja, seandainya aku bisa memutar waktu dan kembali ke masa lalu. Aku tak kan pernah menyesali jalan yang sudah kuambil, aku pasti akan tetap memilih menikah. Menurutku cepat atau lambatnya seseorang menikah itu adalah sesuatu yang relatif. Orang lain mungkin akan mengatakan aku kecepatan menikah, tetapi aku menganggap usia dua puluh empat tahun adalah usia yang pas untuk menikah. Aku bahkan mempunyai target menikah pada usia dua puluh tiga tahun, tetapi kupikir melepaskan status single di usia dua puluh empat tahun tidak buruk juga, kan? "Sayangnya, sarjana cuma jadi guru TK" Nah ini, komentar yang amat miris sekali. Aku ingat sekali dulu aku pernah dikatakan seperti ini oleh orang lain. Padahal dia saja yang tak mengerti bahwa menjadi guru TK pun sangat dibutuhkan skill. Menjadi...